Kamis, 17 Juli 2008

cerita dari gerbang "BAITUL IZZAH"

SABIQ MAKHZUM ZEN
yang terlahir dari rahimku sejak 4 th 2 bulan lalu...


rabu 16 july 2008 (hari ke tiga sekolah)

"ibu' mboten mesakke dik abiq ta....?"

satu kalimat itu seperti pukulan hebat yang kau hujamkan tepat di ulu hati ibu nak... dan sejak kata2 itu terucap dari bibir mungilmu, penuh kepolosan dan pengharapan agar ibu senantiasa ada di dekatmu...ibu hanya bisa memeluk tubuh kecilmu seraya menangis. dan meskipun hari telah berganti, kata2mu tak bisa reda untuk terus berdengung di telinga ibu. andai ibu bisa berteriak saat itu, pasti ibu akan lantang berkata; "tak ada yang mampu merebut satu incipun tempatmu dalam cinta ibu nak, ibu sangat sayang padamu..."


kamis 17 july 2008, 07.00 WIB (hari keempat sekolah)

dan taukah engkau, bahkan ibu hampir tak bisa membawa pergi tubuh ini tadi pagi... karna engkau telah membuat seluruh isinya tinggal bersamamu di sana. maafkan segala yang ibu lakukan terhadapmu hari ini biq. ibu tak bisa melakukan hal lain selain harus memaksa tegar, mengikhlaskanmu. karna mungkin hal itulah yang terbaik bagimu, paling tidak untuk hari-hari mendatang. bukannya ibu mboten mesakke dik abiq (sprt yg kamu bilang), ibu hanya ingin membuatmu mandiri, dan asatidzah bilang bahwa ibu harus percaya mereka, dengan meninggalkanmu di sekolah.


kamis 17 july 2008, 11.00 WIB (hari keempat sekolah)

ibu menjemputmu. ibu rindu sekali padamu. ini adalah kali pertama engkau tidak bersama ibu dalam hitungan jam. akhirnya ibu melihatmu nak...membawa tas biru batman yang dulu di belikan umi'. dengan tersenyum kamu keluar kelas, setelah usai pamitan dgn asatidzah. engkau menghampiri ibu, dengan senyum penuh kerinduan. mulut mungilmu langsung berceloteh...; "buk...dik abiq wau mboten mular. dik abiq wau mendel teyus. dik abiq pinter buk...??" tangan ibu gemetar nak..., ibu hanya bisa memelukmu sambil mengiyakan seluruh pertanyaanmu. meskipun ibu tau, bahwa tadi engkau menangis keras waktu ibu beranjak pulang. tapi akhirnya engkau bisa tenang dan mengikuti aktifitas kelasmu. ibu mengerti, celotehmu tadi hanyalah ungkapan hatimu yang tidak ingin ibu sedih dan menangis sprt kmrn saat kamu enggan masuk kelas dan memilih terus bersama ibu.

andai engkau mengerti nak, betapa bangganya ibu padamu. sama sekali ibu tak mengira, engkau akan secepat itu beradaptasi di lingkungan barumu. sementara selama ini engkau tak pernah lepas dari pandangan, sentuhan, dan pelukan ibu. dan kali ini, ibu melihatmu begitu sabar dan tegar menghadapi semua yang terjadi padamu sepanjang pagi hingga siang.

ibu bangga padamu biq...
semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu, sebagai yang sangat ibu cinta...

.

Jumat, 04 Juli 2008

yg begitu menusuk

itu bukan dirimu... semua itu hanyalah selintas pemikian yang memicu sugesti terhadap diriku sendiri. aku hanya terlalu naif dengan keadaan yang tiba2 menjadi sangat memusuhiku. keadaan tentang segala harapan yang terlalu dan terlanjur indah. ada begitu banyak kekecewaa yang menyumbat tenggorokanku, sementara aku hanya bisa mengendapkannya sampai basi.

.

ternyata sama saja

dan bahkan semua perlakuan itu membuatku sangat terpukul. hingga aku merasa tak memiliki tempat sama sekali...bahkan pada diri sendiri. betapa mereka telah mencakar hatiku hingga retak tak beraturan. dan betapa tak sedikitpun mereka memberiku sedikit waktu untuk merasa bahagia atas apa yang aku lakukan.

.

Minggu, 22 Juni 2008

k a l u t

Hidupkah ini…? Kala diri harus mampu menjaring semua kabut. Mendengar semua gemersah yang memekakkan telinga. Kadangkala aku merasa jumawa, bahwa semuanya pun pada akhirnya mampir padaku,bermanja padaku. Tapi kali ini, aku hampir tak lagi bisa menguasai diri. Aku jatuh, benar-benar jatuh. Semua hal yang mendedar waktuku tiba-tiba membuat pening, membuat kepala berdenyut-denyut. Aku sedang berfikir, kenapa bukan aku yang di merdekakan? pppfffhhh…

(jum’at,130608)



.

yang menjadi tak biasa

Aku lupa

Pada waktu yang kupenggal darimu

Aku meminang beribu kata hari ini

Tanpa menyadai, bahwa

Kita tak lagi sejalan

Maafkan aku, membuat keributan dalam hidupmu

Maafkan aku…

Tak bisa berhenti mencintaimu…

(180608)


.

Minggu, 20 April 2008

untuk master dj-nya phie'...

keyakinan itu datang darimu. membuatku merasa bahwa aku memang pantas berada disini. aku tau, segala himpitan ini akan mengendur ketika aku mampu mengelola keributan dalam diriku, menjadi seutas tali yang lentur untukku. aku ingat kata-katamu, bahwa "seekor ular tidak akan kembali ke sarangnya sebelum dia benar-benar merasa kenyang". memang begitu kan seharusnya...? aku harus egois untuk, pada, terhadap diriku sendiri. karna hal itu yang akan membuatku tetap mampu tegak berdiri. masih banyak yang harus kucapai, masih banyak yang menungguku untuk bangkit, masih luas duniaku untuk menanti keajaiban dari angan-angan yang tersamarkan di dasar diri. jika aku tidak egois, aku akan menjadi orang yang pasrah. dan itu adalah malapetaka bagiku. satu hal yang aku sadari, begitu besar kau sokong aku, dengan segala pikiran dan tenagamu, dengan seluruh hati serta doamu. sungguh, bagaimana aku tidah merasa malu padamu, jika aku tetap saja melemahkan diriku sendiri. aku belajar banyak darimu, tentang hidup, kebersamaan, perjuangan, dan cinta kasih.

meskipun aku tau, engkau tidak akan pernah menafikanku dalam setiap pengaduanmu pada-Nya, tapi aku tetap saja meminta untuk engkau mendoakan aku, terlebih dalam kurun waktu tiga bulan kedepan. aku berharap engkau tak jemu untuk terus mendukungku, memberikan semangat padaku, menyakinkan aku, bahwa aku tidak akan lagi mengecewakan abah dan umi'.

terimah kasih untuk semua yang telah kau beri hingga hari ini MD... tak ada yang bisa sepertimu deeeh.... (hahaha...)

.

Kamis, 03 April 2008

Meraihmu dlm ingatan

Jika

Tak lagi ada lembar-lembar

Yang terkusamkan jemari

Masihkah mampu kucegah segenap

Debu yang berkobar


Seperti juga kebersamaan itu

Yang melebur besama riak angin

Membelah waktu

Datang dan pergi tanpa kutau

Datang dan pergi dengan beragam pertanyaan

Mempermainkan

Mempertanyakan

Menghujamkan


Bila saja kau tau

Seberapa dalam dirimu berakar dalam

Palung kalbu

Masihkah bersedia menggengamku

Menjadikan aku tetap yang tercinta….?


.