Mengajakmu ke pasar tradisional pagi tadi biq....
Berboncengan naik polygon biru tua. Tanganmu melingkar erat di pinggang ibu. Kita menikmati pagi diantara ribuan hektar tanaman padi, sesekali mendengar gemercik aliran sungai-sungai kecil di sela pematang sawah. Kau berceloteh riang tentang betapa gembiranya kau bisa pergi bersamaku kali ini.
Ibu saaangat menikmatinya...
Sampai di pasar, dengan sabarnya kau menanti ibu selesai berbelanja. Sesekali kau tanya tentang ikan asin yang kau kira snack, kau tanya tentang bawang bombay yang menurutmu mainan lucu, sesekali juga kakimu berjingkat jijik oleh genangan air di lantai pasar yang becek. Hehehe....kau pasti risih ya....
Jatah ibu membeli semua kebutuhan lesehan telah selesai. "Ibu' sampun mantun?", katamu. "Nggih, sampun. D'abiq badhe nyuwun napa?". "Saumpami nyuwun dolanan angsal mboten?". "Dolanan napa? Dolanane kan pun kathah?". "Nggih napaaa...ngoten. Mirsani rumiyin nggih bu'...?". "Wokkeee......, ayuuuhhh....".
Kita pun berkeliling pasar, sambil sesekali kau jengah, ketika ibu terpaksa beberapa kali berhenti untuk menyalami dan saling menyapa tetangga2 yang kebetulan bertemu atau berdagang disana.
"Biiiq..., wonten rasukkan ipin upiiinn..., purun?" Tanyaku. "Mboten ah, rasukkane tasik kathah, dolanan mawon nggih?". (Waaa...., pinteeerr....., jatahe ra okeh-okeeeh, bathinku, qiqiqiqiq.......). Akhirnya kau pilih mainan yang kau suka. Mobil-mobilan sederhana, kau pilih yang menurutmu kau belum memilikinya. Hhhmmmm.......
Acara membeli mainan dan belanja telah selesai. Ibu mengajakmu kembali ke tempat belanja pertama untuk membayar dan menata bawaan pulang. Lagi-lagi kau sabar menunggu.
Mata mungilmu mulai berputar-putar (seperti mata tom yang gagal mengejar jerry dan terbentur pagar halaman, huihihiiii....lucu!!). Bibir mungilmu perlahan membentuk oval. Kau melongo biq...!!! Hahahaaa....
"D' abiq kinging napa?" Tanyaku, "bingung?". "Hehehe....inggih bu'. Teng mriki kog mbulet nggih, bingung d'abiq. Tiyange kog kuuuuwathuuuuwah nggiiihh....?" Sambil mata indahmu terus menelisik ke tengah kerumunan orang-orang, untuk kemudian kau sandarkan tubuhmu ke ibu' (wajahmu lucuuu sekali saat itu biq. Ibuu pun tak tahan untuk memeluk dan menciumimu. Ibu masih tertawa, sembari memberimu ciuman bertubi-tubi, dan kau....masih terbengong-bengong permanen, hahahaaa.... biiiq..biq).
Aku tau nak, pasar bukan tempat yang kau suka. Pasar tradisional itu bau, dan kotor. Dan kau sangat tidak terbiasa dengan suasana seperti itu. Sebenarnya ibupun juga. Tapi taukah kau, ada banyak hal yang ingin ibu sampaikan dari sana. Kelak kau akan mengerti, dan paaasti kau akan merindukan kembali saat-saat seperti tadi....., "suatu pagi, kepasar tradisaional bersama ibu".....
Sukomoro yang beranjak dari lengangnya subuh,
15 februari 2010.
.
Selasa, 16 Maret 2010
Minggu, 21 Februari 2010
Serenade Senja
Limabelas menit. Langit menjadi poros hentakan sayap-sayap mungil yang mengepak. Melukis awan yang mulai meng-abu abu dengan titik-titik dinamis. Ah...benar-benar nuansa malam di ujung senja.
Lima belas menit. Udara sore itu mengejang. Membekukan nanar mata yang tandas terkuras. Ada lipatan pilu di balik udara dingin. Ada jemari kaki yang bermain di ujung genangan keruh. Menggeliat, melentur, menghentak.
Limabelas menit. Harmonisasi jengah yang berujung di bumi basah. Semangkuk keengganan terkulai. Meliuk-liuk dalam genggaman kepasrahan. Indah, tapi ini adalah kegilaan tanpa konsep, pppfffhhhhh...
Limabelas menit. Jiwaku menyuguhkan sekotak cinta. Pagelaran sarat ketakjuban yang membunuh waktu perlahan-lahan. Dan inilah aku. Kesadaran murni ketika setiap inci nafas adalah ketabahan.
Lima belas menit. Matahari mengintip risau di sela awan. Seolah mengusirku dari kebisuan. Tapi disinilah aku....dalam diam yang menguatkanku.
Tanah basah, 21 februari 2010
.
Lima belas menit. Udara sore itu mengejang. Membekukan nanar mata yang tandas terkuras. Ada lipatan pilu di balik udara dingin. Ada jemari kaki yang bermain di ujung genangan keruh. Menggeliat, melentur, menghentak.
Limabelas menit. Harmonisasi jengah yang berujung di bumi basah. Semangkuk keengganan terkulai. Meliuk-liuk dalam genggaman kepasrahan. Indah, tapi ini adalah kegilaan tanpa konsep, pppfffhhhhh...
Limabelas menit. Jiwaku menyuguhkan sekotak cinta. Pagelaran sarat ketakjuban yang membunuh waktu perlahan-lahan. Dan inilah aku. Kesadaran murni ketika setiap inci nafas adalah ketabahan.
Lima belas menit. Matahari mengintip risau di sela awan. Seolah mengusirku dari kebisuan. Tapi disinilah aku....dalam diam yang menguatkanku.
Tanah basah, 21 februari 2010
.
Kamis, 18 Februari 2010
'Evolusi Emosional'..., ketika rasa cinta belajar dewasa
Membingkai ketiadaan dalam pemahaman yang kian beringsut dari celah keihlasan
Aku, kau, dan beberapa helai hasrat itu seakan terus berotasi
Kesenjangan, perbedaan, dan kerinduan. Semua lebur, bertafakur dalam emosi yang mengalur
Saat itu, ekspresimu adalah nafasku
Jemarimu, adalah tarian senyum di ujung bibirku
Dan cintamu, adalah harmoni hidupku
Aku mencoba berkolaborasi dengan waktu
Mencoba meleraimu dari tangis nakalku
Mendewasakan rasa, ketika emosi bergejolak
Karna engkau bukanlah sebuah kebetulan
Bukan pula sebuah ketidaksengajaan
Engkau adalah skenario Tuhan untukku
Jadi biarlah aku egois tentangmu
Mengakarkanmu dalam tekstur hati,
Sampai nanti....
Sampai pemahamanku tak mampu membuatmu mengerti
Dalam gerimis, ditepi pematang sawah...
18 februari 2010
.
Aku, kau, dan beberapa helai hasrat itu seakan terus berotasi
Kesenjangan, perbedaan, dan kerinduan. Semua lebur, bertafakur dalam emosi yang mengalur
Saat itu, ekspresimu adalah nafasku
Jemarimu, adalah tarian senyum di ujung bibirku
Dan cintamu, adalah harmoni hidupku
Aku mencoba berkolaborasi dengan waktu
Mencoba meleraimu dari tangis nakalku
Mendewasakan rasa, ketika emosi bergejolak
Karna engkau bukanlah sebuah kebetulan
Bukan pula sebuah ketidaksengajaan
Engkau adalah skenario Tuhan untukku
Jadi biarlah aku egois tentangmu
Mengakarkanmu dalam tekstur hati,
Sampai nanti....
Sampai pemahamanku tak mampu membuatmu mengerti
Dalam gerimis, ditepi pematang sawah...
18 februari 2010
.
Kekasih Tak Lagi Bisa Menanti.....
Sampai di sini...,
Ketika senjakala meremas hati
Aku menunggumu di balik gerimis
Hingga alam pun meranggas di pelupuk musim
Sampai disini...,
Ketika jemari kehilangan eksistensi
Aku hanya mampu menahan
Gejolak yg mulai menjadi pecundang
Sampai disini...,
Anyir aroma kenangan itu sangat menyengat
Menusuk hingga tawa berubah
Menjadi erangan yg meringkuk gusar
Sampai disini...,
Akalku tak lagi menyusutkan kecemburuannya
Terhadap dunia yg kian menyusutkanmu
Dari batas verbal yg mengejawantah
Akhirnya sampai disini...,
Kekasih tak lagi bisa menanti..........
Ketika bumi kian lengang,
16 februari 2009.
.
Ketika senjakala meremas hati
Aku menunggumu di balik gerimis
Hingga alam pun meranggas di pelupuk musim
Sampai disini...,
Ketika jemari kehilangan eksistensi
Aku hanya mampu menahan
Gejolak yg mulai menjadi pecundang
Sampai disini...,
Anyir aroma kenangan itu sangat menyengat
Menusuk hingga tawa berubah
Menjadi erangan yg meringkuk gusar
Sampai disini...,
Akalku tak lagi menyusutkan kecemburuannya
Terhadap dunia yg kian menyusutkanmu
Dari batas verbal yg mengejawantah
Akhirnya sampai disini...,
Kekasih tak lagi bisa menanti..........
Ketika bumi kian lengang,
16 februari 2009.
.
Rabu, 10 Februari 2010
kenap usang disudut jantung
Setidaknya garis2 langit yang tersisa itu masih sanggup berbicara.
Tentang kekinian yang tak lagi menapak. Atau penggalan-penggalan lalu yg sebatas bingkai melapuk.
Setidaknya angin pagi itu masih menembus rongga waktu.
Mencuri keindahan pagi untukku. Menggumpalkan ceceran kalimat yg memburai entah termakan apa..., siapa...
Setidaknya aku masih disini.
Menikmatimu dalam gemersah tawa kering. Karna udara yang membuatmu mampu kuhirup telah menerbangkanmu hingga ujung langit.
Kau...
Dalam ingatan
Ketika hanya kau, yang begitu meruang dan membuatku kalang kabut.
Kau...
Dalam renungan
Ketika detakan semakin kencang memicu jantung waktu.
Kau...
Dalam kehilangan
Ketika musim hujan justru mencetak petak-petak kering di ladang pagi
Dan kau...
Dalam kekosongan
Ketika malam kembali mempertanyakan tentangku padamu
*--...Inilah aku, realitas gamang bagimu...--*
Tanah basah di sisi sungai, 10 februari 2010
.
Tentang kekinian yang tak lagi menapak. Atau penggalan-penggalan lalu yg sebatas bingkai melapuk.
Setidaknya angin pagi itu masih menembus rongga waktu.
Mencuri keindahan pagi untukku. Menggumpalkan ceceran kalimat yg memburai entah termakan apa..., siapa...
Setidaknya aku masih disini.
Menikmatimu dalam gemersah tawa kering. Karna udara yang membuatmu mampu kuhirup telah menerbangkanmu hingga ujung langit.
Kau...
Dalam ingatan
Ketika hanya kau, yang begitu meruang dan membuatku kalang kabut.
Kau...
Dalam renungan
Ketika detakan semakin kencang memicu jantung waktu.
Kau...
Dalam kehilangan
Ketika musim hujan justru mencetak petak-petak kering di ladang pagi
Dan kau...
Dalam kekosongan
Ketika malam kembali mempertanyakan tentangku padamu
*--...Inilah aku, realitas gamang bagimu...--*
Tanah basah di sisi sungai, 10 februari 2010
.
Beranda....., kian terasing
Biarkan aku mencintaimu diam-diam. Hatiku toh hanya segumpal daging merah. Tak kan mampu menguasaimu. Disana hanya dapat menyimpan sobekan waktu yang terbiar...kala tarian gerimis berdansa dipucuk daun padi.
Biarkan aku merindukanmu diam-diam. Adaku pun toh hanya di ujung jalan. Aku tak kan punya cukup bekal bertamu padamu. membawakanmu setangkup gejojak yang semestinya maumu...ketika jalan yg kau bentang begitu panjang.
Biarkan aku merasakanmu diam-diam. Aku toh hanya sebuah "kesederhanaan". Yang tiba-tiba tersangkut di ranting malam...kala hasrat keabadian menetes di reruntuhan awan.
Jantung hati....
Kau adalah ikrar hati
Bahkan ketika Tuhan Yang Maha Romantis
Mengutuk bumi
Kau adalah dengkuran yang berulang
Ketika pagi enggan berdebat dengan mata
Kau adalah gemercik ketenangan
Ketika keheranan merangkum sekian tanya
Dan kau, jantung hati....
Kau adalah epilog,
Ketika cinta tak lagi tenggelam
dalam pemahaman hidup yang sama sekali dangkal.
dinding bambu,
ketika senyap mencaci hujan 06 februari 2009
Biarkan aku merindukanmu diam-diam. Adaku pun toh hanya di ujung jalan. Aku tak kan punya cukup bekal bertamu padamu. membawakanmu setangkup gejojak yang semestinya maumu...ketika jalan yg kau bentang begitu panjang.
Biarkan aku merasakanmu diam-diam. Aku toh hanya sebuah "kesederhanaan". Yang tiba-tiba tersangkut di ranting malam...kala hasrat keabadian menetes di reruntuhan awan.
Jantung hati....
Kau adalah ikrar hati
Bahkan ketika Tuhan Yang Maha Romantis
Mengutuk bumi
Kau adalah dengkuran yang berulang
Ketika pagi enggan berdebat dengan mata
Kau adalah gemercik ketenangan
Ketika keheranan merangkum sekian tanya
Dan kau, jantung hati....
Kau adalah epilog,
Ketika cinta tak lagi tenggelam
dalam pemahaman hidup yang sama sekali dangkal.
dinding bambu,
ketika senyap mencaci hujan 06 februari 2009
Senin, 05 Oktober 2009
terpasung
malam belum larut
ketika nafasku tersengal tebaran debu
menyumbat ujung dada
yang melintas perlahan,
memaklumkan keinginan untuk tak lagi terjaga,
hingga esok, lusa....
entah kapan berakhir
**ramaikan hatiku Tuhan.... .**
.
Langganan:
Postingan (Atom)
