Aku ingin sepertimu....
meyatu dalam malam-malam yang terbius dzikir.
menguras peluh membangun menara.
berkalung sorban bermahkota keihlasan.
garang menantang kedengkian.
Atau...
Setidaknya aku mampu menghalau riak badai dengan kearifan
Membuat semua kepala mengangguk tanpa doktrin
Betapa kau hanya cukup
Berkendara hati yang lapang menuju syurga
Beralas keteguhan hati melangkah
Tenang...
Matang...
Bijak...
Kau mampu menghitung segala hal tanpa harus matrealistis
Kau mampu merangkul dunia meski tubuhmu kian renta
Kau memang pendekar...
(Aku selalu tersenyum bila mendengar/mengatakan kalimat ini)
Kau pribadi unik
Pribadi yang angkuh, tapi bergelimang cinta
Pribadi santun, tapi keras kepala
(Tapi sepertinya aku lebih keras kepala darimu, hehehe..)
Pribadi yang mahal bermurah kata, tapi humoris
Betapa aku harus belajar banyak darimu...
Semoga Tuhan memberimu umur panjang, melipatgandakan kesabaranmu, dan melapangkan jalan rizqi bagimu. Amien.
Diantara angin yang melimbungkan batang pepadian sawah,
31 mey 2010.
.
Senin, 14 Juni 2010
Jumat, 28 Mei 2010
tetap HILANG >>>>>>>
Terlalu encer
Ketika butiran keypad itu
Menggerus pagi
Atau bahkan terasa tak bernyali
Ketika sekian ruangan berasap
Oleh matahari yang membakar
Oooooiy....
Senyawa memainkan keutuhan
Yang merapuh
Seakan dunia berkurang isinya
Menekan kecemasan dalam-dalam
Berharap-harap risau
Pagi yang SE-A-KAN sempurna...
Secuil puisi di batas alam rekaan
Menerka fluida yang mengaliri jantung
Dari sekian detakan yang samar
Memacu kenang-kenangan
Yang mendadak sangat biasa
"Sebuah kenyataan yang utopis",
Fuihhh....................
........................
Seperti secangkir kopiku kali ini,
Yang mendadak membuat duniaku
Super simple
Atau bahkan penuh lobang?
Waaaowww....!! Amaaaazing....!!
(Ternganga mendapati kesadaran yang berjingkat....kembali pulang ke rahim yg melahirkannya... )
EPILOG.....;
Ketika tinggal beberapa tegukan terakhir
Ampas di dasar cangkirku ternyata Sebuah perasaan hambar
"aku kehilanganmu"...
Ber-uuuuuuu-lang kali.
Bumi kering, 06 maret 2010.
.
Ketika butiran keypad itu
Menggerus pagi
Atau bahkan terasa tak bernyali
Ketika sekian ruangan berasap
Oleh matahari yang membakar
Oooooiy....
Senyawa memainkan keutuhan
Yang merapuh
Seakan dunia berkurang isinya
Menekan kecemasan dalam-dalam
Berharap-harap risau
Pagi yang SE-A-KAN sempurna...
Secuil puisi di batas alam rekaan
Menerka fluida yang mengaliri jantung
Dari sekian detakan yang samar
Memacu kenang-kenangan
Yang mendadak sangat biasa
"Sebuah kenyataan yang utopis",
Fuihhh....................
Seperti secangkir kopiku kali ini,
Yang mendadak membuat duniaku
Super simple
Atau bahkan penuh lobang?
Waaaowww....!! Amaaaazing....!!
(Ternganga mendapati kesadaran yang berjingkat....kembali pulang ke rahim yg melahirkannya... )
EPILOG.....;
Ketika tinggal beberapa tegukan terakhir
Ampas di dasar cangkirku ternyata Sebuah perasaan hambar
"aku kehilanganmu"...
Ber-uuuuuuu-lang kali.
Bumi kering, 06 maret 2010.
.
kau, aku, dan kekosongan
Separuh malam terselip di sela belukar. Merangkai keheningan dalam setapak basah. Langkahku terus terayun, memahami masa yang tertimbun ke"fana"an...
Aku mempertanyakan tentang relatifitas yang kembali terbentur dinding. Aku mengurai tentang aroma pagi yang tersungkur di meja kecil ini.
Semua kembali di satu titik. Nihil.
.
Aku mempertanyakan tentang relatifitas yang kembali terbentur dinding. Aku mengurai tentang aroma pagi yang tersungkur di meja kecil ini.
Semua kembali di satu titik. Nihil.
.
"kilasa hati di pagi buta" (sajak cinta buat bunda...)
Engkau adalah mata air kehidupan
Mengalirkan cinta tanpa pamrih
Engkau pemilik hati maha luas
Terhadap setiap noda yg kuretas
Engkau garis tegas yg tergambar
Memberi batasan jelas
Tentang makna hidup dan kehidupan
Langkahmu pasti
Gerakmu tak berbatas
Pelukanmu menghangati bumi
Cintamu sanggup membakar kegelisahan yg menghimpit
Bahkan setetes air matamu mampu membuat nafasku terhenti
Heeey...
Lihatlah..., seluruh dunia tengah menghimpun doa buatmu hari ini
Tersenyumlah, maka hari ini pasti akan penuh keberkahan
Lupakan sejenak,
Nota-nota yg terbiar, giro yang pelum terbayar, orderan yg belum terkirim...
Atau apa saja yg membuatmu jengah
Pejamkan matamu sejenak
Biar kupeluk tubuhmu yang mulai renta
Biar ku alirkan cintaku yg deras
Memberimu ciuman bertubi-tubi
Membuatmu merasa lengkap
Bukan karna keberadaanku,
Tapi karna cintaku tak pernah renta
Cintaku selalu berevolusi untukmu
Cintaku selalu mengejawantah padamu
Setiap detik, dalam kausalitas waktu
Tak peduli lagi....,
kau sadari itu atau tidak
"SELAMAT HARI IBU" Umi'....
Sungkemku,
Elly faidah ahmad..., sebongkah raga yg ada karna cintamu.
Mengalirkan cinta tanpa pamrih
Engkau pemilik hati maha luas
Terhadap setiap noda yg kuretas
Engkau garis tegas yg tergambar
Memberi batasan jelas
Tentang makna hidup dan kehidupan
Langkahmu pasti
Gerakmu tak berbatas
Pelukanmu menghangati bumi
Cintamu sanggup membakar kegelisahan yg menghimpit
Bahkan setetes air matamu mampu membuat nafasku terhenti
Heeey...
Lihatlah..., seluruh dunia tengah menghimpun doa buatmu hari ini
Tersenyumlah, maka hari ini pasti akan penuh keberkahan
Lupakan sejenak,
Nota-nota yg terbiar, giro yang pelum terbayar, orderan yg belum terkirim...
Atau apa saja yg membuatmu jengah
Pejamkan matamu sejenak
Biar kupeluk tubuhmu yang mulai renta
Biar ku alirkan cintaku yg deras
Memberimu ciuman bertubi-tubi
Membuatmu merasa lengkap
Bukan karna keberadaanku,
Tapi karna cintaku tak pernah renta
Cintaku selalu berevolusi untukmu
Cintaku selalu mengejawantah padamu
Setiap detik, dalam kausalitas waktu
Tak peduli lagi....,
kau sadari itu atau tidak
"SELAMAT HARI IBU" Umi'....
Sungkemku,
Elly faidah ahmad..., sebongkah raga yg ada karna cintamu.
sebuah catatan dari balik waktu
Aku ingin kita bicara
Tentang perjalanan selama 7 hari
ke lombok yg kita impikan
Seraya memainkan ujung rambutmu
Yang menari tergerak angin
Atau, kita bicara tentang embun
sekedar menemanimu menghabiskan pagi
Dengan sesekali menyodorkan keningku nakal...,
Memintamu menciumnya
(Pikiranku mulai tekan ngendi2 je...)
Lihatlah...
Betapa waktu telah semakin tua
Mereka semakin menjebak kita
Dalam ragam warnanya yg memabukkan
Sementara aku tetap saja disini
Meraupmu dalam hantaran angin
Atau, ajarkan saja aku menjadi naif...
Senaif dirimu yang masih bisa bekerja membabibuta.., marah.., tertawa.., cemburu...
Senaif kebahagiaan di dunia 'aneh' kita
Karna di setiap detik kala kenyataan mulai bersinggungan,
Aku merasakan sakit yg begitu menusuk
(Aku hampir saja gila, merasakan engkau yg terasa dekat, namun begitu jauh untuk kusentuh....)
Aku ingin keberadaanku bukan semata
Rentetan pertanyaan lagi...
Atau penghakiman atas sekian panjang ketidak mengertianmu
Peluklah jantungku sepanjang waktu yang kau inginkan
Dan hitunglah detakannya
Sebanyak itulah aku merindukanmu
(Jenguklah aku...sebentaaar saja. Biar aku bisa berkaca dimatamu, dan merasakan diriku ada dalam dirimu...)
«•~..."Adinda", sepotong hati dalam kurun waktu berlalu...~•»
.
Tentang perjalanan selama 7 hari
ke lombok yg kita impikan
Seraya memainkan ujung rambutmu
Yang menari tergerak angin
Atau, kita bicara tentang embun
sekedar menemanimu menghabiskan pagi
Dengan sesekali menyodorkan keningku nakal...,
Memintamu menciumnya
(Pikiranku mulai tekan ngendi2 je...)
Lihatlah...
Betapa waktu telah semakin tua
Mereka semakin menjebak kita
Dalam ragam warnanya yg memabukkan
Sementara aku tetap saja disini
Meraupmu dalam hantaran angin
Atau, ajarkan saja aku menjadi naif...
Senaif dirimu yang masih bisa bekerja membabibuta.., marah.., tertawa.., cemburu...
Senaif kebahagiaan di dunia 'aneh' kita
Karna di setiap detik kala kenyataan mulai bersinggungan,
Aku merasakan sakit yg begitu menusuk
(Aku hampir saja gila, merasakan engkau yg terasa dekat, namun begitu jauh untuk kusentuh....)
Aku ingin keberadaanku bukan semata
Rentetan pertanyaan lagi...
Atau penghakiman atas sekian panjang ketidak mengertianmu
Peluklah jantungku sepanjang waktu yang kau inginkan
Dan hitunglah detakannya
Sebanyak itulah aku merindukanmu
(Jenguklah aku...sebentaaar saja. Biar aku bisa berkaca dimatamu, dan merasakan diriku ada dalam dirimu...)
«•~..."Adinda", sepotong hati dalam kurun waktu berlalu...~•»
.
N I S K A L A . . . . . (?)
Seperti titah Tuhannya
Hati itu tak akan mengkultuskanmu
Diatas taqdir yang berhembus
Memaksakan gemercik embun
Bermuara dicangkir paginya
Setiap yang di inginkan
Biar saja pagi merangkak
Sewajarnya pagi
Tetap mendulang embun dan matahari
Merangsek di sela pori-pori bumi
Toh semua hanya kelindaran yang
Selalu ada
Tak usah menelisiknya risau....
Sejarah itu telah kumal
Dan bingkai reyotnya sebatas
Memaksimalkan rasa lukanya
Sebagai seonggok daging yang tengah lumpuh
Ungkapanku terlalu CENGENGkah...?
Ah....
Itu hanyalah ungkapan retoris sayang...,
Aku bertanggung jawab penuh atas kalimat-kalimat yang menurutmu "klise" dan "murahan" itu.
Hehehe.....
EPILOG.....
Air mata dan senyuman, adalah dua hal yang selalu akan teralami. Semua hanya visualisasi, dari kualitas manusia yang tak bisa dihindari....
Keniscayaan yg kembali pulang,
05 maret 2010
.
Hati itu tak akan mengkultuskanmu
Diatas taqdir yang berhembus
Memaksakan gemercik embun
Bermuara dicangkir paginya
Setiap yang di inginkan
Biar saja pagi merangkak
Sewajarnya pagi
Tetap mendulang embun dan matahari
Merangsek di sela pori-pori bumi
Toh semua hanya kelindaran yang
Selalu ada
Tak usah menelisiknya risau....
Sejarah itu telah kumal
Dan bingkai reyotnya sebatas
Memaksimalkan rasa lukanya
Sebagai seonggok daging yang tengah lumpuh
Ungkapanku terlalu CENGENGkah...?
Ah....
Itu hanyalah ungkapan retoris sayang...,
Aku bertanggung jawab penuh atas kalimat-kalimat yang menurutmu "klise" dan "murahan" itu.
Hehehe.....
EPILOG.....
Air mata dan senyuman, adalah dua hal yang selalu akan teralami. Semua hanya visualisasi, dari kualitas manusia yang tak bisa dihindari....
Keniscayaan yg kembali pulang,
05 maret 2010
.
Gombal Mukiyo
Cuaca demi cuaca memperbudakku,
Menerjemahkan absurditasmu.
Kau adalah perca dari lipatan nadi,
Berserak....
Tak mampu kurajut untuk kueja.
Aku, dengan kejengahanku
Menantikanmu rampung berdansa
Dengan bebuih langit yg berkelip.
Aku, dengan bualan waktu
Mengesampingkan realitas nakal itu
Meski kadang semuanya memuakkanku.
Hingga......
Sederet angka dan kalimat
menyembur dari lembaran senja. Menusuk batin.
Ada udara aneh dalam ruang mu
Ada pemaknaan yg di paksakan,
ketika ambisimu mengingisyaratkan bahwa....,
"kau selalu baru, aku yang usang".
Masih meringkuk, dalam duniamu yang melelahkan....., 04 maret 2010
.
Menerjemahkan absurditasmu.
Kau adalah perca dari lipatan nadi,
Berserak....
Tak mampu kurajut untuk kueja.
Aku, dengan kejengahanku
Menantikanmu rampung berdansa
Dengan bebuih langit yg berkelip.
Aku, dengan bualan waktu
Mengesampingkan realitas nakal itu
Meski kadang semuanya memuakkanku.
Hingga......
Sederet angka dan kalimat
menyembur dari lembaran senja. Menusuk batin.
Ada udara aneh dalam ruang mu
Ada pemaknaan yg di paksakan,
ketika ambisimu mengingisyaratkan bahwa....,
"kau selalu baru, aku yang usang".
Masih meringkuk, dalam duniamu yang melelahkan....., 04 maret 2010
.
Langganan:
Postingan (Atom)
